Headlines News :
Home » » AD / ART SYARIKAT ISLAM INDONESIA ( 2 )

AD / ART SYARIKAT ISLAM INDONESIA ( 2 )

Written By SYARIKAT ISLAM INDONESIA KAB.SUKABUMI on Kamis, 31 Juli 2014 | 11.20











MUQODDIMAH
  

Hendaklah ada di antara kamu, umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh (manusia) berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kejayaan. ( Qur’an Surat Ali Imran: 104 ).

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM

Bahwa sesungguhnya Islam adalah Dinullah.Ia adalah ketentuan hukum hidup dan kehidupan serta peraturan dasar pergaulan hidup bersama yang dalam ketentuannya ia mendatangkan kebenaran dan keadilan, membebaskan manusia dari pada kedholiman, memerdekakan rakyat dari pada penjajahan, perbudakan dan penghambaan serta kebodohan dan mengangkat ke tingkat derajat yang sempurna.

Dalam mewujudkan kebenaran tersebut, maka kami ummat Islam bertanggung jawab menggalang persatuan yang tersusun kuat lahir bathinnya untuk memimpin perjuangan ummat guna memperdapat dan mengusahakan hak menguasai tanah tumpah darah dan bangsa sendiri, membela kehidupan rakyat yang aman dan bahagia, mengatasi segala rintangan serta melawan penyimpangan-penyimpangan yang menggagalkan tujuan perjuangan: membebebaskan rakyat dari segala macam bentuk penghambaan.

Maka dengan Rahmat dan Karunia Allah, kami susun Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan Tata Tertib Syarikat Islam Indonesia. Hukum yang tertinggi adalah Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh yang nyata, dan bahwa Program Azas dan Tandhim Syarikat Islam Indonesia adalah dasar dan pedoman bagi segala cita-cita yang kita tuju dan bagi segala perbuatan yang kita lakukan untuk mencapai maksud menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya.


BILLAAHI FIE SABILIL HAQ








ANGGARAN DASAR

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM

ANGGARAN DASAR
SYARIKAT ISLAM INDONESIA

(Setelah diubah dan ditambah dengan keputusan Majlis Tahkim di Jakarta pada tanggal 5 sampai 12 Maret 1933 dikuatkan dengan keputusan referendum pada tahun 1933 dan keputusan Majlis Tahkim tahun 1950, 1951, 1953, 1962, 1966 dan diubah dan disempurnakan dengan keputusan Majlis Tahkim Luar Biasa P.S.I.I. 1972 di Majalaya, Bandung dan disempurnakan pada Majlis Tahkim Luar Biasa di Garut tahun 2003).

BAB I
SIFAT TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Syarikat Islam Indonesia disingkat SI Indonesia. Adalah peningkatan daripada Syarikat Islam (S.I.) yang telah berdiri sejak tanggal 10 September 1912 sebagai penyempurnaan dari S.D.I yang telah ada dalam tahun 1905, dengan tidak menghilangkan perhubungan antara anggotanya dengan Pimpinan Pusatnya menjadi suatu KAUM di dalam seluruh Indonesia yang tidak terpecah-pecah atau berbagi-bagi, yang dalam persatuannya ini menjadi sebagian pula di dalam Persatuan Ummat Islam sedunia dan berkedudukan di tempat kedudukan Dewan Pimpinan Pusat yang ditetapkan oleh Kongres Nasional (Majlis Tahkim)-nya.

BAB II
AZAS DAN TUJUAN

Pasal 2
Syarikat Islam Indonesia berdasarkan DINUL ISLAM menurut ketentuan (menurut ta’rif) yang dinyatakan pada alenia satu Muqoddimah Anggaran Dasar ini.

Dengan memakai alasan yang ditetapkan dan dinyatakan dalam Program Azas ( Azas Perjuangannya) maka Syarikat Islam Indonesia bertujuan hendak menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya.

BAB III
LAMBANG

Pasal 3
1.    Lambang Kebesaran Syarikat Islam Indonesia adalah “Kalimat Tauhid”dan lima buah tulisan dalam huruf Arab “ALLOH” yang mengililingi tulisan “Syarikat Islam”yang kesemuanya berbentuk bintang bulan sabit.
2.    Panji kehormatan ialah: Panji hijau lumut dengan lambang ditengah-tengahnya berwarna kuning emas
3.    Bendera Perjuangan ialah:dasar hitam dengan lambang di tengah-tengah berwarna putih.

Ketentuan mengenai ayat 1-3 diatur dalam Peraturan Khusus tentang lambang.


BAB IV
IKHTIAR DAN DAYA UPAYA

Pasal 4
Berdasarkan azas dan tujuan tersebut pada Bab II pasal 2 Anggaran Dasar ini dan berpedoman pada Program Tandhim yang menetapkan dan menyatakan perlawanan, persandaran Gerak Perlawanan serta arah dan daya upaya Perlawanan, Syarikat Islam Indonesia melakukan ikhtiar dan daya upaya:
1.        Membangun Persatuan yang tersusun rapat di dalam kalangan Ummat Islam yang teratur dengan aturan yang mencukupi perintah-perintah Alloh dan Rosululloh dalam segala hal ikhwal kehidupan, pencarian dn pergaulan dan dengan jalan itu membangunkan dan mendidik syarat dan sifat serta kekuatan dan kecakapan yang perlu untuk mempertahakan hak menguasai dan kewajiban menyelematkan negeri tumpah darah dan bangsa sendiri, dan dengan ikhtiar itu menjadi suatu bagian yang bertambah-tambah kuat di dalam persatuan Ummat Islam sedunia.
2.        Menjaga keselamatan perhubungan Ummat Islam itu dengan segolongan sebangsa dan lain-lain penduduk tumpah darah kita Indonesia ini dan memperhubungkan atau mempersatukan usaha dengan sesuatu atau segala golongan itu atas tiap-tiap perkara, yang ada faedahnya bagi keperluan bersama (umum).
3.        Teristimewa Syarikat Islam Indonesia berusaha :
a.         Mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan semangat dan jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.
b.         Menyusun kekuatan massa yang nyata dalam masyarakat seperti: buruh, tani, pemuda dan lain-lainnya.
c.         Menghimpun kekuatan dari kalangan ulama, cendikiawan dan professional.
d.         Mengorganisasi persekutuan-persekutuan perusahaan: perusahaan kerajinan, perusahaan pertukangan, perusahaan perniagaan, kaum buruh, kaum tani, serta lain-lain perusahaan jasa.
e.         Mendorong, mendidik dan membimbing ummat untuk berkeinsyafan menunaikan Ibadah Agama Islam dan berkecakapan untuk menjadi ummat yang baik, berpengetahuan dan berkemampuan menegakkan hak serta menyelamatkan Negara dan Bangsa serta memberikan dan melakukan pembelaan tegas terhadap hukum.




BAB V
KEANGGOTAAN

Pasal 5
1.        Yang boleh menjadi anggota Syarikat Islam Indonesia ialah orang Islam laki-laki dan perempuan Warga Negara Indonesia yang sudah berumur 17 tahun dan atau yang sudah menikah yang terkenal baik nama maupun kelakuannya serta menyetujui Azas, Tujuan,Program Azas dan program Tandhim.
2.        Anggota Syarikat Islam Indonesia terdiri dari :
a.         Anggota Bai’at, ialah anggota yang telah mengucapkan bai’at menurut ketentuan yang bunyinya ditetapkan pada Pasal 7 berikut ini.
b.         Anggota biasa.
Ketentuan untuk menjadi anggota Biasa dan atau anggota Bai’at serta pelepasannya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
3.        Hak dan kewajiban anggota diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 6
1.        Keanggotaan seseorang, baik Anggota Bai’at maupun Anggota Biasa berakhir bila:
a.    Meninggal dunia.
b.    Berhenti karena kehendak dan tanggung jawab sendiri.
c.    Diberhentikan sementara.
d.    Dipecat.
2.        Cara melaksanakan a,b,c dan d lebih lanjut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 12, 13 & 14.

Pasal 7

Bai’at berbunyi sebagai berikut :

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammadan rosulullah

Wallohi! Demi Alloh! Sesungguhnya saya masuk menjadi anggota Syarikat Islam Indonesia dengan ikhlash dan suci hati, tidak karena sesuatu keperluan diri saya sendiri, atau karena mengharapkan pertolongan dalam sesuatu perkara dari sebelum saya menjadi anggota.

Selama-lamanya saya akan meninggikan agama Islam di atas segala apa-apa yang dapat saya fikirkan, maka saya akan tetap mengerjakan perintah Alloh dan Rasul Alloh dan menjauhi segala laranganNya.

Saya hendak mengusahakan diri dengan sekuat-kuatnya ketakukan saya kepada Alloh ta’ala dan dengan sekuat-kuat fikiran dan tenaga saya hendak menyampaikan maksud Syarikat Islam Indonesia dan sekali-kali tidak akan membuat bencana atau khianat atas Syarikat Islam Indonesia.

Saya hendak memperhatikan dan menurut dengan bersungguh-sungguh ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar dan Keputusan-keputusan Majlis Tahkim Syarikat Islam Indonesia dan selalu membela Syarikat Islam Indonesia dari pada bencana pihak yang mana saja.


BAB VI
SENDI DASAR, SUSUNAN ORGANISASI DAN BADAN PIMPINAN

Pasal 8
SENDI DASAR

1.    Sendi Dasar Syarikat Islam Indonesia adalah :
a.    Musyawarah
b.    Disiplin
c.    Kritik dan Self Kritik
d.    Gotong Royong
e.    Ikhlash
2.    Syarat-syarat Dasar Pelaksanaan Sendi Dasar tersebut pada ayat 1 lebih lanjut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 9
SUSUNAN ORGANISASI

Organisasi Syarikat Islam Indonesia disusun atas dasar pembahagian geografi secara bertingkat :
1.    Organisasi Pusat yang meliputi seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia.
2.    Organisasi Wilayah yang meliputi daerah Propinsi, Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah di bawah Propinsi yang ditentukan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
3.    Oraganisasi Cabang yang meliputi daerah Kabupaten, Kotamadya dan daerah di bawah Kabupaten yang ditentukan oleh Lajnah Tanfidziyah.
4.    Organisasi Anak Cabang meliputi daerah Kecamatan dan daerah di bawah kecamatan yang ditentukan oleh Pimpinan Wilayah.
5.    Organisasi Ranting meliputi daerah Kelurahan atau Desa atau Daerah di bawah Kelurahan yang ditentukan oleh Pimpinan Cabang.
6.    Jama’ah Syarikat Islam Indonesia meliputi lingkungan tempat kerja atau lain-lain lingkungan yang ditentukan oleh Pimpinan Anak Cabang.
7.    Ketentuan-ketentuan mengenai tiap-tiap tingkat Organisasi diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 10
BADAN PIMPINAN

1.    Organisasi Pusat dipimpin oleh Dewan pimpinan Pusat yang terdiri dari Dewan Pusat dan Lajnah Tanfidziyah.
2.    Organisasi Wilayah dipimpin oleh Dewan Pimpinan Wilayah yang terdiri dari Dewan Wilayah dan Pimpinan Wilayah.
3.    Organisasi Cabang dipimpin oleh Dewan Pimpinan Cabang yang terdiri dari Dewan Cabang dan Pimpinan Cabang.
4.    Organisasi Anak Cabang dipimpin oleh Pimpinan Anak Cabang.
5.    Organisasi Ranting dipimpin oleh Pimpinan Ranting.
6.    Jama’ah Syarikat Islam Indonesia dipimpin oleh seorang Ketua Jama’ah.
7.    Ketentuan dan pembagian pekerjaan tiap-tiap Badan Pimpinan diatur dan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 11
Pekerjaan Wilayah, Cabang, Anak Cabang, Ranting, Jama’ah begitu juga caranya mengangkat dan melepas Badan Pimpinan diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga pasal 22 s/d pasal 25

BAB VII
PEMBAGIAN PEKERJAAN

Pasal 12
Untuk menyusun kekuatan riil (nyata) dalam masyarakat, Syarikat Islam Indonesia membagi pekerjaan atas cabang-cabang yang masing-masing disebut “DEPARTEMEN” pada tingkat Pusat, “BIDANG” pada tingkat Wilayah, “BAGIAN” pada tingkat Cabang, “SEKSI” pada tingkat Anak Cabang dan “URUSAN” pada tingkat Ranting.

Yang terakhir ini diadakan apabila dipandang perlu, mengingat pesatnya Ranting yang bersangkutan.

Penjelasan selanjutnya tentang Pembagian Pekerjaan pada Anggaran Rumah Tangga.

BAB VIII
HUKUM KEKUASAAN

Pasal 13
1.    Adapun Hukum yang tertinggi dalam keyakinan Syarikat Islam Indonesia adalah Kitabulloh dan Sunnah Rasululloh yang nyata.
2.    Dengan bertakluk kepada Hukum yang tertinggi itu adalah kekuasaan yang tertinggi dalam Urusan Syarikat Islam Indonesia tergenggam oleh Majlis Tahkim ( Kongres Nasional ).
3.    Dengan tidak boleh berlawanan dengan ketentuan Syarikat Islam Indonesia yang berlaku dan Keputusan-Keputusan Majlis Tahkim, kekuasaan yang tertinggi dalam urusan Syarikat Islam Indonesia :
a.    Tingkat Wilayah tergenggam oleh Musyawarah Wilayah.
b.    Tingkat Cabang tergenggam oleh Musyawarah Cabang.
c.    Tingkat Anak Cabang tergenggam oleh Musyawarah Anak Cabang.
d.    Tingkat Ranting tergenggam oleh Rapat Anggota Ranting.
4.    Adapun kekuasaan Dewan Legislatif di masa antara :
a.    Majlis Tahkim berada di tangan Dewan Pusat.
b.    Musyawarah Wilayah berada di tangan Dewan Wilayah.
c.    Musyawarah Cabang, Anak Cabang, Rapat Ranting / Anggota, berada di tangan Dewan Cabang.
5.    Tugas, Kewajiban dan Hak-Kekuasaan Majlis Tahkim, Musyawarah Wilayah, Musyawarah Cabang, Anak Cabang dan Rapat Ranting, begitu juga ketentuan-ketentuan mengenai badan-badan penggenggam Dewan Legislatif di masa antara Majlis Tahkim, Musyawarah dan Rapat Anggota diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 14
KEKUASAAN EKSEKUTIF

1.      Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Indonesia adalah penggenggam Kekuasaan Eksekutif tertinggi dari seluruh Syarikat Islam Indonesia.
2.      Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting adalah penggenggam Kekuasaan masing-masing.
3.      Segala ketentuan mengenai pembagian pekerjaan dn cara melakukan pekerjaan tiap-tiap Pemegang Kekuasaan Eksekutif diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB IX
PERSIDANGAN,KUORUM DAN CARA MENGAMBIL KEPUTUSAN

Pasal 15
PERSIDANGAN – PERSIDANGAN

Adapun macam-macam persidangan yang berlaku di dalam Syarikat Islam Indonesia adalah :
1.    a.  Majlis Tahkim ( Kongres nasional ).
b.    Musyawarah Wilayah.
c.    Musyawarah Cabang, Anak Cabang dan Rapat Ranting/Anggota
2.    a.   Konferensi Besar.
b.    Rapat Kerja Nasional.
c.    Konferensi Wilayah dan Cabang.
d.    Rapat Kerja Wilayah, Cabang, Anak Cabang dan Ranting.
3.    Rapat Pleno dan Rapat Harian :
3.1.  Rapat Pleno
a.    Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah.
b.    Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Wilayah, Pimpinan Wilayah
c.    Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Cabang, Pimpinan Cabang.
d.    Pimpinan Anak Cabang dan Ranting.
3.2.  Rapat Harian
       a.   Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah.
b.      Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Wilayah, Pimpinan Wilayah.
c.       Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Cabang, Pimpinan Cabang.
d.      Pimpinan Anak Cabang dan Ranting.

Pasal 16
K U O R U M

Segala macam persidangan dianggap sah apabila yang hadir lebih dari separuh jumlah badan organisasi atau anggota yang harus hadir sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kecuali ada ketentuan lain. Jika suatu persidangan terpaksa ditunda karena tidak mencukupi kuorum, maka persidangan yang kemudian diadakan dalam batas waktu menurut keputusan Badan Pimpinan yang bersangkutan dengan undangan dan acara yang sama dengan acara rapat pertama, dianggap sah tanpa mengingat kuorum.

Pasal 17
KEPUTUSAN-KEPUTUSAN

1.    Pada umumnya semua keputusan diambil dengan suara bulat mufakat atas dasar hikmah kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan  apabila suara bulat mufakat itu tidak tercapai maka diadakan pemungutan suara dan putusan diambil berdasarkan suara terbanyak.
2.    Apabila hasil pemungtan suara terdapat suara sama banyak dan setelah diulang masih juga tetap sama, maka persoalannya diserahkan kepada Pimpinan Sidang untuk mngambil keputusan dan keputusan tersebut mengikat.

BAB X
MAJLIS TAHKIM ( KONGRES NASIONAL )

Pasal 18
1.    MajlisTahkim ( Kongres Nasional ) diadakan 5 tahun sekali, diselenggarakan oleh Dewan Pusat.
2.    Peserta Majlis Tahkim terdiri dari :
a.      Dewan Pusat
b.      Lajnah Tanfidziyah.
c.       Wakil-Wakil Dewan Wilayah.
d.      Wakili-Wakil Pimpinan Wilayah.
e.      Wufud  (Utusan Cabang)
f.        Wakil-wakil Pimpinan Cabang.
3.    Jika keadaan memaksa atau menghendaki, sewaktu-waktu diadakan Majlis Tahkim Luar Biasa atas permintaan Dewan Pusat atau Lajnah Tanfidziyah atau atas perimintaan Dewan Pimpinan Wilayah yang mewakili lebih dari separuh jumlah Cabang yang sah, atau atas permintaan lebih dari jumlah Cabang yang sah.

Pasal 19
1.    Majlis Tahkim adalah tempat bagi Dewan Pusat dan Lajnah Tanfidziyah mempertanggung jawabkan segala pekerjaan dan kebijaksanaannya sesuai dengan fungsinya masing-masing.
2.    Laporan Pertanggungjawaban Lajnah Tanfidziyah sedikitnya memuat pekerjaan dan kebijaksanaan di bidang politik, organisasi dan keuangan serta kegiatan-kegiatan Departemen-departemen yang ada menurut keputusan Majlis Tahkim yang lalu.
3.    Majlis Tahkim mengambil keputusan tentang pekerjaan Dewan  Pusat dan tentang pekerjaan Lajnah Tanfidziyah dimaksud pada ayat (2) di atas setelah dibicarakan seperlunya. Keputusan tentang perhitungan uang harus dialaskan atas hasil pemeriksaan Komisi Verifikasi yang diangkat oleh Majlis Tahkim.
4.    Dalam sidang Majlis Tahkim itu juga harus ditetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk tahun-tahun jihad berikutnya, dan ditetapkan pula program politik dan program organisasi/Program kerja berdasarkan Program Azas dan Program Tandhim SI Indonesia dan usul-usul dari Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah, Pimpinan Wilayah dan Cabang-cabang.
5.    Segala keputusan Sidang Majlis Tahkim harus daimbil berdasarkan suara terbanyak dan tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Tata Tertib yang bersangkutan.
6.    Dewan Pusat menyusun segala keputusan Majlis Tahkim secara rasional dan sistematis sesuai dengan urgensinya dan menyerahkan kepada Lajnah Tanfidziyah untuk disiarkan dan dilaksanakan.
7.    Segala sesuatu yang berhubungan denganj fungsi dan kekuasaan Majlis Tahkim diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumahn Tangga.

BAB XI
BADAN PIMPINAN PUSAT

Pasal 20
DEWAN PIMPINAN PUSAT

1.    Dewan Pimpinan Pusat adalah Badan Penggenggam Kekuasaan Tertinggi Organisasi antara masa dua Majlis tahkim. Ia merupakan Badan Pimpinan politis-Ideologies tertinggi Syarikat Islam Indonesia, berfungsi melakukan :
a.      Perencanaan
b.      Pengorganisasian
c.       Pembimbingan
d.      Pengawasan dan Penilitian
2.    Dewan Pimpinan Pusat adalah perwujudan dari azas sistem pimpinan gotong royong yang menjadi salah satu sendi dasar organisasi Syarikat Islam Indonesia untuk mambuang jauh sistem pimpinan perseorangan yang memberi kemungkinan lahirnya neodictatorisme yang dipantang oleh azas-azas Islam.
3.    Fungsi Dewan Pimpinan Pusat dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat Harian yang terdiri dari Dewan Pusat Harian dan Lajnah Tanfidziyah Harian.
4.    Segala ketentuan Dewan  Pimpinan Pusat diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 21
DEWAN PUSAT
SYARIKAT ISLAM INDONESIA

1.    Dewan Pusat selaku penggenggam kekuasaan Dewan Legislatif Tertinggi antara masa dua Majlis Tahkim, mempunyai kekuasaan melakukan pengawasan dan penelitian, memberi nasihat bimbingan dan pimpinan pelaksanaan Keputusan Majlis Tahkim dan Ketentuan-ketentuan serta lain-lain keputusan dan mendamaikan perselisihan yang timbul di dalam dunia Syarikat Islam Indonesia dan mentanfidzkan ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam Syarikat Islam Indonesia.
2.    Dewan Pusat adalah tempat lajnah Tanfidziyah bertanggungjawab antara masa dua Majlis Tahkim.
3.    Dewan Pusat terdiri atas :
a.      Seorang Presiden, dan 2 (dua) orang Wakil Presiden.
b.      Seorang Sekretaris Jenderal dan 2 (dua) orang Wakil Sekretaris Jenderal.
c.       Seorang Bendahara.
4.    Kesemuanya merangkap sebagai anggota Dewan Pusat ditambah beberapa orang anggota sebagai pembantu ahli.
5.    Dewan Pusat Harian terdiri dari Presiden, Wakil-wakil Presiden, Sekretaris Jenderal, Wakil-wakil Sekretaris Jenderal dan Bendahara.
6.    Ketentuan-ketentuan mengani segala sesuatu yang berhubungan dengan fungsi dan kekuasaan Dewan Pusat diatur lebih lanjut di dalam Anggaran Rumah Tangga.

Pasal 22
LAJNAH TANFIDZIYAH SYARIKAT ISLAM INDONESIA

1.    Lajnah Tanfidziyah selaku Penggenggam Kekuasaan Eksekutif Pusat, menerima segala keputusan Majlis Tahkim dari Dewan Pusat dan menjalankannya. Untuk keperluan itu Lajnah Tanfidziyah berhak melakukan segala kekuasaan mengatur serta mengerjakan segala urusan dan melakukan pula segala pengawasan yang berhubungan dengan keperluan menjalankan keputusan-keputusan atas nama Syarikat Islam Indonesia baik ke dalam maupun ke luar.
2.    Dalam melakukan tugasnya sehari-hari Lajnah Tanfidziyah berkewajiban memberikan laporan kepada Dewan Pusat.
3.    Lajnah Tanfidziyah bertugas memberikan pimpinan ideologie kepada massa organisasi maupun lain-lain organisasi massa lainnya.
4.    Lajnah Tanfidziyah terdiri dari :
a.      Seorang Presiden, beberapa orang Wakil Presiden sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang.
b.      Seorang Sekretaris Jenderal, beberapa orang Wakil Sekretaris Jenderal, sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang.
c.       Seorang Bendahara merangkap Ketua Deparemen Keuangan
d.      Beberapa orang anggota yang masing-masing menjadi Ketua Departemen-departemen sesuai kebutuhan.
5.    Lajnah Tanfidziyah Harian terdiri atas : Presiden Lajnah Tanfidziyah, Wakil-wakil Presiden, Sekretaris Jenderal Lajnah Tanfidziyah, para Wakil Sekretaris Jenderal dan Bendahara.
6.    Segala sesuatu yang berhubungan dengan fungsi dan kekuasaan Lajnah Tanfidziyah diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB XII
KEKAYAAN ORGANISASI

Pasal 23
Kekayaan Organisasi terdiri dari :
1.    Uang Pangkal
2.    Uang Iuran
3.    Infaq
4.    Sidqoh
5.    Zakat
6.    Wakaf
7.    Lain-lain pemasukan yang sah dan halal serta tidak mengikat.

BAB XIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 24
     Anggaran Dasar Organisasi dapat diubah dengan Keputusan-keputusan Majlis Tahkim yang sengaja diadakan untuk keperluan itu dan yang dihadiri oleh Utusan-utusan (wufud) sedikit-dikitnya separuh dari jumlah seluruh Cabang dan mewakili lebih dari 2/3 jumlah seluruh anggota Seluruh Indonesia.

     Jika Majlis Tahkim yang sengaja diadakan untuk merubah Anggaran Dasar tertunda, karena tidak mencukupi kuorum, maka Majlis Tahkim yang kemudian diadakan dalam batas waktu secepat-cepatnya 3 ( tiga ) bulan dan selambat-lambanya 6(enam) bulan dengan undangan baru dan dianggap sah tanpa mengingat kuorum.

BAB XIV
TIDAK DAPAT BUBAR

Pasal 25
Seluruh anggota Syarikat Islam Indonesia harus yakin dan bertindak, bahwa syarikat Islam Indonesia itu tidak dapat bubar atau dibubarkan. Adapun kalau kiranya ada udzur baginya, hendaklah dikembalikan kepada firman Alloh di dalam Qur’an Surat At-Taghobun Ayat ke-16.

‘FATTAQULLOOHA MASTATHO’TUM’
(Takutlah kamu sekalian kepada Alloh dengan sekuat-kuatnya ketakutan)

BAB XV
ANGGARAN RUMAH TANGGA
SYARIKAT ISLAM INDONESIA

Pasal 26
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran dasar ini, diatur dalam Anggaran Rumah Tangga yang ketentuan-ketentuannya tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar ini, yaitu sebagai berikut :


Selengkapnya silahkan Download......
Share this article :

1 komentar:

MUTIARA NASIHAT

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS.Al-Imron : 104 )"

"Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. [HR.Muslim ] "

(1)Demi masa (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (3 ) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran ( QS . Al-Ashr : 1- 3 ).

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu 'anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim” [HR.Muslim]

“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (QS. Fathir: 32)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata : "Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : "Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya" ". [HR Tirmidzi, Ibnu Majah ]

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS.Annahl : 125 )

DAFTAR ISI

 
Support : DPCSYARIKAT ISLAM INDONESIAKABUPATEN SUKABUMI
Diberdayakan Oleh Blogger
Copyright © 2013. SYARIKAT ISLAM INDONESIA KAB.SUKABUMI - All Rights Reserved