MUQODDIMAH
Hendaklah ada di antara kamu, umat yang mengajak
kepada kebaikan, menyuruh (manusia) berbuat kebaikan dan melarang berbuat
kejahatan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kejayaan. ( Qur’an Surat
Ali Imran: 104 ).
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
Bahwa sesungguhnya Islam adalah Dinullah.Ia adalah
ketentuan hukum hidup dan kehidupan serta peraturan dasar pergaulan hidup bersama
yang dalam ketentuannya ia mendatangkan kebenaran dan keadilan, membebaskan
manusia dari pada kedholiman, memerdekakan rakyat dari pada penjajahan,
perbudakan dan penghambaan serta kebodohan dan mengangkat ke tingkat derajat
yang sempurna.
Dalam mewujudkan kebenaran tersebut, maka kami ummat
Islam bertanggung jawab menggalang persatuan yang tersusun kuat lahir bathinnya
untuk memimpin perjuangan ummat guna memperdapat dan mengusahakan hak menguasai
tanah tumpah darah dan bangsa sendiri, membela kehidupan rakyat yang aman dan
bahagia, mengatasi segala rintangan serta melawan penyimpangan-penyimpangan
yang menggagalkan tujuan perjuangan: membebebaskan rakyat dari segala macam
bentuk penghambaan.
Maka dengan Rahmat dan Karunia Allah, kami susun
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan Tata Tertib Syarikat Islam
Indonesia. Hukum yang tertinggi adalah Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh yang
nyata, dan bahwa Program Azas dan Tandhim Syarikat Islam Indonesia adalah dasar
dan pedoman bagi segala cita-cita yang kita tuju dan bagi segala perbuatan yang
kita lakukan untuk mencapai maksud menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan
sepenuh-penuhnya.
BILLAAHI FIE SABILIL HAQ
ANGGARAN DASAR
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM
ANGGARAN DASAR
SYARIKAT ISLAM INDONESIA
(Setelah diubah dan ditambah dengan keputusan
Majlis Tahkim di Jakarta pada tanggal 5 sampai 12 Maret 1933 dikuatkan dengan
keputusan referendum pada tahun 1933 dan keputusan Majlis Tahkim tahun 1950,
1951, 1953, 1962, 1966 dan diubah dan disempurnakan dengan keputusan Majlis
Tahkim Luar Biasa P.S.I.I. 1972 di Majalaya, Bandung dan disempurnakan pada
Majlis Tahkim Luar Biasa di Garut tahun 2003).
BAB I
SIFAT TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Syarikat Islam Indonesia disingkat SI
Indonesia. Adalah peningkatan daripada Syarikat Islam (S.I.) yang telah berdiri
sejak tanggal 10 September 1912 sebagai penyempurnaan dari S.D.I yang telah ada
dalam tahun 1905, dengan tidak menghilangkan perhubungan antara anggotanya
dengan Pimpinan Pusatnya menjadi suatu KAUM di dalam seluruh Indonesia yang
tidak terpecah-pecah atau berbagi-bagi, yang dalam persatuannya ini menjadi
sebagian pula di dalam Persatuan Ummat Islam sedunia dan berkedudukan di tempat
kedudukan Dewan Pimpinan Pusat yang ditetapkan oleh Kongres Nasional (Majlis Tahkim)-nya.
BAB II
AZAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Syarikat Islam Indonesia berdasarkan DINUL
ISLAM menurut ketentuan (menurut ta’rif) yang dinyatakan pada alenia satu
Muqoddimah Anggaran Dasar ini.
Dengan memakai alasan yang ditetapkan dan
dinyatakan dalam Program Azas ( Azas Perjuangannya) maka Syarikat Islam
Indonesia bertujuan hendak menjalankan Islam dengan seluas-luasnya dan
sepenuh-penuhnya.
BAB III
LAMBANG
Pasal 3
1.
Lambang Kebesaran Syarikat Islam Indonesia adalah
“Kalimat Tauhid”dan lima buah tulisan dalam huruf Arab “ALLOH” yang
mengililingi tulisan “Syarikat Islam”yang kesemuanya berbentuk bintang bulan
sabit.
2.
Panji kehormatan ialah: Panji hijau lumut dengan
lambang ditengah-tengahnya berwarna kuning emas
3.
Bendera Perjuangan ialah:dasar hitam dengan lambang di
tengah-tengah berwarna putih.
Ketentuan mengenai ayat 1-3 diatur dalam Peraturan
Khusus tentang lambang.
BAB IV
IKHTIAR DAN DAYA UPAYA
Pasal 4
Berdasarkan azas dan tujuan tersebut pada Bab
II pasal 2 Anggaran Dasar ini dan berpedoman pada Program Tandhim yang
menetapkan dan menyatakan perlawanan, persandaran Gerak Perlawanan serta arah
dan daya upaya Perlawanan, Syarikat Islam Indonesia melakukan ikhtiar dan daya
upaya:
1.
Membangun Persatuan yang tersusun rapat di dalam
kalangan Ummat Islam yang teratur dengan aturan yang mencukupi
perintah-perintah Alloh dan Rosululloh dalam segala hal ikhwal kehidupan,
pencarian dn pergaulan dan dengan jalan itu membangunkan dan mendidik syarat
dan sifat serta kekuatan dan kecakapan yang perlu untuk mempertahakan hak
menguasai dan kewajiban menyelematkan negeri tumpah darah dan bangsa sendiri,
dan dengan ikhtiar itu menjadi suatu bagian yang bertambah-tambah kuat di dalam
persatuan Ummat Islam sedunia.
2.
Menjaga keselamatan perhubungan Ummat Islam itu dengan
segolongan sebangsa dan lain-lain penduduk tumpah darah kita Indonesia ini dan
memperhubungkan atau mempersatukan usaha dengan sesuatu atau segala golongan
itu atas tiap-tiap perkara, yang ada faedahnya bagi keperluan bersama (umum).
3.
Teristimewa Syarikat Islam Indonesia berusaha :
a.
Mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan semangat
dan jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945.
b.
Menyusun kekuatan massa yang nyata dalam masyarakat
seperti: buruh, tani, pemuda dan lain-lainnya.
c.
Menghimpun kekuatan dari kalangan ulama, cendikiawan
dan professional.
d.
Mengorganisasi persekutuan-persekutuan perusahaan:
perusahaan kerajinan, perusahaan pertukangan, perusahaan perniagaan, kaum
buruh, kaum tani, serta lain-lain perusahaan jasa.
e.
Mendorong, mendidik dan membimbing ummat untuk
berkeinsyafan menunaikan Ibadah Agama Islam dan berkecakapan untuk menjadi
ummat yang baik, berpengetahuan dan berkemampuan menegakkan hak serta
menyelamatkan Negara dan Bangsa serta memberikan dan melakukan pembelaan tegas
terhadap hukum.
BAB V
KEANGGOTAAN
Pasal 5
1.
Yang boleh menjadi anggota Syarikat Islam Indonesia
ialah orang Islam laki-laki dan perempuan Warga Negara Indonesia yang sudah
berumur 17 tahun dan atau yang sudah menikah yang terkenal baik nama maupun
kelakuannya serta menyetujui Azas, Tujuan,Program Azas dan program Tandhim.
2.
Anggota Syarikat Islam Indonesia terdiri dari :
a.
Anggota Bai’at, ialah anggota yang telah mengucapkan
bai’at menurut ketentuan yang bunyinya ditetapkan pada Pasal 7 berikut ini.
b.
Anggota biasa.
Ketentuan untuk menjadi anggota Biasa dan atau
anggota Bai’at serta pelepasannya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah
Tangga.
3.
Hak dan kewajiban anggota diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.
Pasal 6
1.
Keanggotaan seseorang, baik Anggota Bai’at maupun
Anggota Biasa berakhir bila:
a.
Meninggal dunia.
b.
Berhenti karena kehendak dan tanggung jawab sendiri.
c.
Diberhentikan sementara.
d.
Dipecat.
2.
Cara melaksanakan a,b,c dan d lebih lanjut diatur
dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 12, 13 & 14.
Pasal 7
Bai’at berbunyi sebagai berikut :
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu
anna Muhammadan rosulullah
Wallohi! Demi Alloh! Sesungguhnya saya masuk
menjadi anggota Syarikat Islam Indonesia dengan ikhlash dan suci hati, tidak
karena sesuatu keperluan diri saya sendiri, atau karena mengharapkan
pertolongan dalam sesuatu perkara dari sebelum saya menjadi anggota.
Selama-lamanya saya akan meninggikan agama
Islam di atas segala apa-apa yang dapat saya fikirkan, maka saya akan tetap
mengerjakan perintah Alloh dan Rasul Alloh dan menjauhi segala laranganNya.
Saya hendak mengusahakan diri dengan
sekuat-kuatnya ketakukan saya kepada Alloh ta’ala dan dengan sekuat-kuat
fikiran dan tenaga saya hendak menyampaikan maksud Syarikat Islam Indonesia dan
sekali-kali tidak akan membuat bencana atau khianat atas Syarikat Islam
Indonesia.
Saya hendak memperhatikan dan menurut dengan
bersungguh-sungguh ketentuan-ketentuan Anggaran Dasar dan Keputusan-keputusan
Majlis Tahkim Syarikat Islam Indonesia dan selalu membela Syarikat Islam
Indonesia dari pada bencana pihak yang mana saja.
BAB VI
SENDI DASAR, SUSUNAN ORGANISASI DAN BADAN PIMPINAN
Pasal 8
SENDI DASAR
1.
Sendi Dasar Syarikat Islam Indonesia adalah :
a.
Musyawarah
b.
Disiplin
c.
Kritik dan Self Kritik
d.
Gotong Royong
e.
Ikhlash
2.
Syarat-syarat Dasar Pelaksanaan Sendi Dasar tersebut
pada ayat 1 lebih lanjut diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 9
SUSUNAN ORGANISASI
Organisasi Syarikat Islam Indonesia disusun atas dasar
pembahagian geografi secara bertingkat :
1.
Organisasi Pusat yang meliputi seluruh Wilayah Negara
Republik Indonesia.
2.
Organisasi Wilayah yang meliputi daerah Propinsi,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah di
bawah Propinsi yang ditentukan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
3.
Oraganisasi Cabang yang meliputi daerah Kabupaten,
Kotamadya dan daerah di bawah Kabupaten yang ditentukan oleh Lajnah
Tanfidziyah.
4.
Organisasi Anak Cabang meliputi daerah Kecamatan dan
daerah di bawah kecamatan yang ditentukan oleh Pimpinan Wilayah.
5.
Organisasi Ranting meliputi daerah Kelurahan atau Desa
atau Daerah di bawah Kelurahan yang ditentukan oleh Pimpinan Cabang.
6.
Jama’ah Syarikat Islam Indonesia meliputi lingkungan
tempat kerja atau lain-lain lingkungan yang ditentukan oleh Pimpinan Anak
Cabang.
7.
Ketentuan-ketentuan mengenai tiap-tiap tingkat
Organisasi diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 10
BADAN PIMPINAN
1.
Organisasi Pusat dipimpin oleh Dewan pimpinan Pusat
yang terdiri dari Dewan Pusat dan Lajnah Tanfidziyah.
2.
Organisasi Wilayah dipimpin oleh Dewan Pimpinan
Wilayah yang terdiri dari Dewan Wilayah dan Pimpinan Wilayah.
3.
Organisasi Cabang dipimpin oleh Dewan Pimpinan Cabang
yang terdiri dari Dewan Cabang dan Pimpinan Cabang.
4.
Organisasi Anak Cabang dipimpin oleh Pimpinan Anak
Cabang.
5.
Organisasi Ranting dipimpin oleh Pimpinan Ranting.
6.
Jama’ah Syarikat Islam Indonesia dipimpin oleh seorang
Ketua Jama’ah.
7.
Ketentuan dan pembagian pekerjaan tiap-tiap Badan
Pimpinan diatur dan ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 11
Pekerjaan Wilayah, Cabang, Anak Cabang, Ranting,
Jama’ah begitu juga caranya mengangkat dan melepas Badan Pimpinan diatur lebih
lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga pasal 22 s/d pasal 25
BAB VII
PEMBAGIAN PEKERJAAN
Pasal 12
Untuk menyusun kekuatan riil (nyata) dalam masyarakat,
Syarikat Islam Indonesia membagi pekerjaan atas cabang-cabang yang
masing-masing disebut “DEPARTEMEN” pada tingkat Pusat, “BIDANG” pada tingkat
Wilayah, “BAGIAN” pada tingkat Cabang, “SEKSI” pada tingkat Anak Cabang dan “URUSAN” pada tingkat Ranting.
Yang terakhir ini diadakan apabila dipandang perlu,
mengingat pesatnya Ranting yang bersangkutan.
Penjelasan selanjutnya tentang Pembagian Pekerjaan
pada Anggaran Rumah Tangga.
BAB VIII
HUKUM KEKUASAAN
Pasal 13
1.
Adapun Hukum yang tertinggi dalam keyakinan Syarikat
Islam Indonesia adalah Kitabulloh dan Sunnah Rasululloh yang nyata.
2.
Dengan bertakluk kepada Hukum yang tertinggi itu
adalah kekuasaan yang tertinggi dalam Urusan Syarikat Islam Indonesia
tergenggam oleh Majlis Tahkim ( Kongres Nasional ).
3.
Dengan tidak boleh berlawanan dengan ketentuan
Syarikat Islam Indonesia yang berlaku dan Keputusan-Keputusan Majlis Tahkim,
kekuasaan yang tertinggi dalam urusan Syarikat Islam Indonesia :
a.
Tingkat Wilayah tergenggam oleh Musyawarah Wilayah.
b.
Tingkat Cabang tergenggam oleh Musyawarah Cabang.
c.
Tingkat Anak Cabang tergenggam oleh Musyawarah Anak
Cabang.
d.
Tingkat Ranting tergenggam oleh Rapat Anggota Ranting.
4.
Adapun kekuasaan Dewan Legislatif di masa antara :
a.
Majlis Tahkim berada di tangan Dewan Pusat.
b.
Musyawarah Wilayah berada di tangan Dewan Wilayah.
c.
Musyawarah Cabang, Anak Cabang, Rapat Ranting /
Anggota, berada di tangan Dewan Cabang.
5.
Tugas, Kewajiban dan Hak-Kekuasaan Majlis Tahkim,
Musyawarah Wilayah,
Musyawarah Cabang, Anak Cabang dan Rapat Ranting, begitu juga
ketentuan-ketentuan mengenai badan-badan penggenggam Dewan Legislatif di masa
antara Majlis Tahkim, Musyawarah dan Rapat Anggota diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.
Pasal 14
KEKUASAAN EKSEKUTIF
1.
Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Indonesia adalah
penggenggam Kekuasaan Eksekutif tertinggi dari seluruh Syarikat Islam
Indonesia.
2.
Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak
Cabang dan Pimpinan Ranting adalah penggenggam Kekuasaan masing-masing.
3.
Segala ketentuan mengenai pembagian pekerjaan dn cara
melakukan pekerjaan tiap-tiap Pemegang Kekuasaan Eksekutif diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga.
BAB IX
PERSIDANGAN,KUORUM DAN CARA MENGAMBIL KEPUTUSAN
Pasal 15
PERSIDANGAN – PERSIDANGAN
Adapun macam-macam persidangan yang berlaku di dalam
Syarikat Islam Indonesia adalah :
1.
a. Majlis
Tahkim ( Kongres nasional ).
b.
Musyawarah Wilayah.
c.
Musyawarah Cabang, Anak Cabang dan Rapat
Ranting/Anggota
2.
a. Konferensi
Besar.
b.
Rapat Kerja Nasional.
c.
Konferensi Wilayah dan Cabang.
d.
Rapat Kerja Wilayah, Cabang, Anak Cabang dan Ranting.
3.
Rapat Pleno dan Rapat Harian :
3.1.
Rapat Pleno
a.
Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah.
b.
Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Wilayah, Pimpinan
Wilayah
c.
Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Cabang, Pimpinan Cabang.
d.
Pimpinan Anak Cabang dan Ranting.
3.2.
Rapat Harian
a. Dewan Pimpinan
Pusat, Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah.
b.
Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Wilayah, Pimpinan
Wilayah.
c.
Dewan Pimpinan Cabang, Dewan Cabang, Pimpinan Cabang.
d.
Pimpinan Anak Cabang dan Ranting.
Pasal 16
K U O R U M
Segala macam persidangan dianggap sah apabila
yang hadir lebih dari separuh jumlah badan organisasi atau anggota yang harus
hadir sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kecuali ada ketentuan lain. Jika
suatu persidangan terpaksa ditunda karena tidak mencukupi kuorum, maka
persidangan yang kemudian diadakan dalam batas waktu menurut keputusan Badan
Pimpinan yang bersangkutan dengan undangan dan acara yang sama dengan acara
rapat pertama, dianggap sah tanpa mengingat kuorum.
Pasal 17
KEPUTUSAN-KEPUTUSAN
1.
Pada umumnya semua keputusan diambil dengan suara
bulat mufakat atas dasar hikmah kebijaksanaan dalam permusyawarahan dan apabila suara bulat mufakat itu tidak
tercapai maka diadakan pemungutan suara dan putusan diambil berdasarkan suara
terbanyak.
2.
Apabila hasil pemungtan suara terdapat suara sama
banyak dan setelah diulang masih juga tetap sama, maka persoalannya diserahkan
kepada Pimpinan Sidang untuk mngambil keputusan dan keputusan tersebut
mengikat.
BAB X
MAJLIS TAHKIM ( KONGRES NASIONAL )
Pasal 18
1.
MajlisTahkim ( Kongres Nasional ) diadakan 5 tahun
sekali, diselenggarakan oleh Dewan Pusat.
2.
Peserta Majlis Tahkim terdiri dari :
a.
Dewan Pusat
b.
Lajnah Tanfidziyah.
c.
Wakil-Wakil Dewan Wilayah.
d.
Wakili-Wakil Pimpinan Wilayah.
e.
Wufud (Utusan
Cabang)
f.
Wakil-wakil Pimpinan Cabang.
3.
Jika keadaan memaksa atau menghendaki, sewaktu-waktu
diadakan Majlis Tahkim Luar Biasa atas permintaan Dewan Pusat atau Lajnah
Tanfidziyah atau atas perimintaan Dewan Pimpinan Wilayah yang mewakili lebih
dari separuh jumlah Cabang yang sah, atau atas permintaan lebih dari jumlah
Cabang yang sah.
Pasal 19
1.
Majlis Tahkim adalah tempat bagi Dewan Pusat dan
Lajnah Tanfidziyah mempertanggung jawabkan segala pekerjaan dan
kebijaksanaannya sesuai dengan fungsinya masing-masing.
2.
Laporan Pertanggungjawaban Lajnah Tanfidziyah
sedikitnya memuat pekerjaan dan kebijaksanaan di bidang politik, organisasi dan
keuangan serta kegiatan-kegiatan Departemen-departemen yang ada menurut
keputusan Majlis Tahkim yang lalu.
3.
Majlis Tahkim mengambil keputusan tentang pekerjaan
Dewan Pusat dan tentang pekerjaan Lajnah
Tanfidziyah dimaksud pada ayat (2) di atas setelah dibicarakan seperlunya.
Keputusan tentang perhitungan uang harus dialaskan atas hasil pemeriksaan
Komisi Verifikasi yang diangkat oleh Majlis Tahkim.
4.
Dalam sidang Majlis Tahkim itu juga harus ditetapkan
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk tahun-tahun jihad berikutnya, dan
ditetapkan pula program politik dan program organisasi/Program kerja
berdasarkan Program Azas dan Program Tandhim SI Indonesia dan usul-usul dari
Dewan Pusat, Lajnah Tanfidziyah, Pimpinan Wilayah dan Cabang-cabang.
5.
Segala keputusan Sidang Majlis Tahkim harus daimbil
berdasarkan suara terbanyak dan tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Tata Tertib yang bersangkutan.
6.
Dewan Pusat menyusun segala keputusan Majlis Tahkim
secara rasional dan sistematis sesuai dengan urgensinya dan menyerahkan kepada
Lajnah Tanfidziyah untuk disiarkan dan dilaksanakan.
7.
Segala sesuatu yang berhubungan denganj fungsi dan
kekuasaan Majlis Tahkim diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumahn Tangga.
BAB XI
BADAN PIMPINAN PUSAT
Pasal 20
DEWAN PIMPINAN PUSAT
1.
Dewan Pimpinan Pusat adalah Badan Penggenggam
Kekuasaan Tertinggi Organisasi antara masa dua Majlis tahkim. Ia merupakan
Badan Pimpinan politis-Ideologies tertinggi Syarikat Islam Indonesia, berfungsi
melakukan :
a.
Perencanaan
b.
Pengorganisasian
c.
Pembimbingan
d.
Pengawasan dan Penilitian
2.
Dewan Pimpinan Pusat adalah perwujudan dari azas
sistem pimpinan gotong royong yang menjadi salah satu sendi dasar organisasi
Syarikat Islam Indonesia untuk mambuang jauh sistem pimpinan perseorangan yang
memberi kemungkinan lahirnya neodictatorisme yang dipantang oleh azas-azas
Islam.
3.
Fungsi Dewan Pimpinan Pusat dilakukan oleh Dewan
Pimpinan Pusat Harian yang terdiri dari Dewan Pusat Harian dan Lajnah
Tanfidziyah Harian.
4.
Segala ketentuan Dewan
Pimpinan Pusat diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 21
DEWAN PUSAT
SYARIKAT ISLAM INDONESIA
1.
Dewan Pusat selaku penggenggam kekuasaan Dewan
Legislatif Tertinggi antara masa dua Majlis Tahkim, mempunyai kekuasaan
melakukan pengawasan dan penelitian, memberi nasihat bimbingan dan pimpinan
pelaksanaan Keputusan Majlis Tahkim dan Ketentuan-ketentuan serta lain-lain
keputusan dan mendamaikan perselisihan yang timbul di dalam dunia Syarikat
Islam Indonesia dan mentanfidzkan ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam
Syarikat Islam Indonesia.
2.
Dewan Pusat adalah tempat lajnah Tanfidziyah
bertanggungjawab antara masa dua Majlis Tahkim.
3.
Dewan Pusat terdiri atas :
a.
Seorang Presiden, dan 2 (dua) orang Wakil Presiden.
b.
Seorang Sekretaris Jenderal dan 2 (dua) orang Wakil
Sekretaris Jenderal.
c.
Seorang Bendahara.
4.
Kesemuanya merangkap sebagai anggota Dewan Pusat
ditambah beberapa orang anggota sebagai pembantu ahli.
5.
Dewan Pusat Harian terdiri dari Presiden, Wakil-wakil
Presiden, Sekretaris Jenderal, Wakil-wakil Sekretaris Jenderal dan Bendahara.
6.
Ketentuan-ketentuan mengani segala sesuatu yang
berhubungan dengan fungsi dan kekuasaan Dewan Pusat diatur lebih lanjut di
dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 22
LAJNAH TANFIDZIYAH SYARIKAT ISLAM INDONESIA
1.
Lajnah Tanfidziyah selaku Penggenggam Kekuasaan
Eksekutif Pusat, menerima segala keputusan Majlis Tahkim dari Dewan Pusat dan
menjalankannya. Untuk keperluan itu Lajnah Tanfidziyah berhak melakukan segala
kekuasaan mengatur serta mengerjakan segala urusan dan melakukan pula segala
pengawasan yang berhubungan dengan keperluan menjalankan keputusan-keputusan
atas nama Syarikat Islam Indonesia baik ke dalam maupun ke luar.
2.
Dalam melakukan tugasnya sehari-hari Lajnah
Tanfidziyah berkewajiban memberikan laporan kepada Dewan Pusat.
3.
Lajnah Tanfidziyah bertugas memberikan pimpinan
ideologie kepada massa organisasi maupun lain-lain organisasi massa lainnya.
4.
Lajnah Tanfidziyah terdiri dari :
a.
Seorang Presiden, beberapa orang Wakil Presiden
sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang.
b.
Seorang Sekretaris Jenderal, beberapa orang Wakil
Sekretaris Jenderal, sebanyak-banyaknya 4 (empat) orang.
c.
Seorang Bendahara merangkap Ketua Deparemen Keuangan
d.
Beberapa orang anggota yang masing-masing menjadi
Ketua Departemen-departemen sesuai kebutuhan.
5.
Lajnah Tanfidziyah Harian terdiri atas : Presiden
Lajnah Tanfidziyah, Wakil-wakil Presiden, Sekretaris Jenderal Lajnah
Tanfidziyah, para Wakil Sekretaris Jenderal dan Bendahara.
6.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan fungsi dan
kekuasaan Lajnah Tanfidziyah diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
BAB XII
KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal 23
Kekayaan Organisasi terdiri dari :
1.
Uang Pangkal
2.
Uang Iuran
3.
Infaq
4.
Sidqoh
5.
Zakat
6.
Wakaf
7.
Lain-lain pemasukan yang sah dan halal serta tidak
mengikat.
BAB XIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 24
Anggaran
Dasar Organisasi dapat diubah dengan Keputusan-keputusan Majlis Tahkim yang
sengaja diadakan untuk keperluan itu dan yang dihadiri oleh Utusan-utusan
(wufud) sedikit-dikitnya separuh dari jumlah seluruh Cabang dan mewakili lebih
dari 2/3 jumlah seluruh anggota Seluruh Indonesia.
Jika
Majlis Tahkim yang sengaja diadakan untuk merubah Anggaran Dasar tertunda,
karena tidak mencukupi kuorum, maka Majlis Tahkim yang kemudian diadakan dalam
batas waktu secepat-cepatnya 3 ( tiga ) bulan dan selambat-lambanya 6(enam)
bulan dengan undangan baru dan dianggap sah tanpa mengingat kuorum.
BAB XIV
TIDAK DAPAT BUBAR
Pasal 25
Seluruh anggota Syarikat Islam Indonesia harus
yakin dan bertindak, bahwa syarikat Islam Indonesia itu tidak dapat bubar atau
dibubarkan. Adapun kalau kiranya ada udzur baginya, hendaklah dikembalikan
kepada firman Alloh di dalam Qur’an Surat At-Taghobun Ayat ke-16.
‘FATTAQULLOOHA MASTATHO’TUM’
(Takutlah kamu sekalian kepada Alloh dengan
sekuat-kuatnya ketakutan)
BAB XV
ANGGARAN RUMAH TANGGA
SYARIKAT ISLAM INDONESIA
Pasal 26
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran dasar
ini, diatur dalam Anggaran Rumah Tangga yang ketentuan-ketentuannya tidak boleh
bertentangan dengan Anggaran Dasar ini, yaitu sebagai berikut :
Selengkapnya silahkan Download......
Selengkapnya silahkan Download......




hatur nuhun
BalasHapus