( SII-Sukabumi ) Yogyakarta - Penentuan awal Ramadhan terjadi perbedaan di antara ormas Islam. Muhammadiyah memutuskan tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada tanggal 28 Juni 2014. Keputusan Muhammadiyah ini diambil setelah melakukan hisab dengan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Demikian dikatakan Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Oman
Faturahman, SW. Saat ditemui di lantai 5 gedung Asri Medical Center
ketika bersama Tim Observasi dan Astronomi memantau hilal, Jumat sore
kemarin (27/6). Oman menambahkan, tanggal 27 Juni pukul 15.10 WIB telah
terpenuhi tiga (3) kriteria hisab hakiki wujudul hilal.
Tiga kriteria tersebut antara lain sudah terjadi ijtima’, yaitu
konjungsi antara bulan dan matahari. Kemudian, ijtima’ tersebut harus
terjadi sebelum maghrib tiba. Dan saat matahari terbenam bulan masih
berada di atas ufuk atau horizon, berapapun derajatnya.
“Sebelum terbenam di Yogya, hilal (bulan) berada di atas ufuk sebesar 0
derajat 48 menit. Artinya sudah wujud,” katanya. Namun, pemantauan yang
dilakukan oleh tim dari majelis tarjih dan tajdid PP Muhamamdiyah
ternyata tidak terlihat, dikarenakan kondisi cuaca yang kurang baik di
Yogyakarta.
Oman berpendapat, bahwa pemantauan hilal kemarin Jumat bukan untuk
menentukan awal bulan, namun melakukan observasi ilmu pengetahuan.
“Bukan hanya hari ini, sering sekali kami melakukan observasi.
Diberbagai kesempatan tim astrotogafi Muhammadiyah sering melakukan
pemantauan dan perhitungan. Memantau hilal yang dilakukan bukan untuk
menentukan awal bulan. Maksudnya untuk menguji hasil perhitungan.
Misalnya ada perbedaan, apakah perhitungannya yang salah, atau memang
observasinya yang keliru,” ujarnya.
Doktor UIN Sunan Kalijaga ini menambahkan pada prinsipnya, masalah
astronomi adalah teori yang berupa perhitungan dan beserta
rumus-rumusnya, dengan observasi itu tidak bisa dipisahkan. “Jadi satu
dengan yang lainnya saling mengontrol saling menguji saling memperkuat,
antara observasi (rukyat) dan perhitungan (Hisab). Jadi bagi
Muhammadiyah itu observasi tidak ditinggalkan, tetapi kalau Muhammadiyah
dikatakan saat ini memakai hisab, tidak pakai rukyat (karena rukyat
melihat hilal untuk menentukan awal bulan),” tutupnya. (dzar)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !