Kongres PSII ke
19 berlangsung di Jakarta dari tanggal 9 hingga 12 Maret 1933, dalam
kongres dibicarakan perselisihan dengan Dr. Sukiman Cs hingga jatuhnya
keputusan royemen atas dirinya Dr. Sukiman Cs, yang kemudian
mengakibatkan berdirinya Partai baru ialah Partai Islam Indonesia
(PARII) di Yogyakarta dan Lajnah Markaziyah Partai Syarikat Islam (LM
PARSI). Di Makasar (kedua partai tersebut dalam tahun 1937 menggabungkan
diri kembali ke dalam PSII). Juga dalam kongres tersebut diputuskan
sikap hijrah yang berarti tidak mencampurkan diri ke dalam raad-raad
mulai desa raad sampai kepada Tweede Kamer. Selain dari itu dalam
kongres tersebut ketua HOS Cokroaminoto
menyampaikan prasarannya tentang Cultur dan Adat Islam, dimana
dijelaskan mengenahi tanda-tanda hidupnya sesuatu umat dan tentang
Gemeente Islam.
Dalam prasaran tersebut dinyatakan antara lain bahwa: Harus
dan wajib atas kita memeliharakan cultur Islam kita dengan
dasar-dasarnya yang sejati. berusaha menguatkan, memajukannya dan dengan
sekuat tenaga dan pikirannya menyesuaikannya dengan pikiran dan
cita-cita yang modern sesuai dengan zamannya.
Selanjutnya
ditegaskan dalam prasaran tersebut antara lain seperti ini: Tetapi
itupun harus kita tuntunjukkan empat perkara atau pendirian yang benar,
yang benarnya tidak kurang dari pada benarnya axioma (patokan kaidah)
dalam ilmu ukur (nieetkunde, handasat) seperti:
1) Tidak
ada satu cultur yang bisa hidup terus atau mengalami tiap-tiap zaman
yang akan datang kalau cultur itu bertentangan dengan hukum-hukumnya
penghidnpan dan kemajuan, dan bertentangan dengan akal manusia yang
memeluknya.
2) Tidak
ada satu cultur yang bisa hidup terus atau mengalami tiap-tiap zaman
yang akan datang, kalau cultur itu tidak bekerja atau dikerjakan untuk
pemeliharaannya dan penyiarannya.
3) Tidak
ada satu cultur yang bisa hidup terus atau mengalami tiap-tiap zaman
yang akan datang didalam suatu kalangan dimana ia tidak mempunyai daya
upaya yang cakap untuk menyatakan atau mempertunjukkan diri.
4) Agar
supaya bisa hidup terus atau mengalami tiap-tiap zaman yang akan
datang, tiap-tiap cultur harus mempertunjukkan dirinya dalam rupa
(form), upacara atau simbol (tanda pengenal) yang nyata. Demikian antara
lain isi prasaran beliau sekitar soal cultur dan adat Islam.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !